Rabu sore (3/6/2026), suasana di kawasan Tugu ANIEM Kota Magelang tampak berbeda dari biasanya. Puluhan pesepeda dari berbagai usia dan latar belakang berkumpul untuk merayakan Hari Sepeda Dunia melalui kegiatan bertajuk "nyoRIDE". Tepat pukul 16.30 WIB, para peserta mulai mengayuh sepeda mengelilingi Kota Magelang dengan membawa satu pesan sederhana: sepeda adalah moda transportasi yang sehat, menyenangkan, dan ramah lingkungan.
Pemilihan waktu sore hari bukan tanpa alasan. Kegiatan sengaja dilaksanakan untuk menjaring masyarakat yang baru pulang bekerja, kuliah, maupun sekolah. Harapannya, semakin banyak orang dapat merasakan bahwa bersepeda tidak hanya untuk olahraga di akhir pekan, tetapi juga bisa menjadi bagian dari mobilitas sehari-hari.
Lebih dari 50 pesepeda turut meramaikan kegiatan ini. Berbagai jenis sepeda hadir di jalanan Kota Magelang, mulai dari sepeda lipat, MTB, road bike, hingga sepeda harian. Pesertanya pun beragam, mulai dari ASN, pelajar, mahasiswa, pekerja swasta, hingga anak-anak sekolah yang antusias mengikuti perayaan Hari Sepeda Dunia tahun ini.
Di tengah padatnya aktivitas sore Kota Magelang, iring-iringan pesepeda menjadi pemandangan yang cukup menarik perhatian. Lampu sepeda mulai menyala menjelang senja, bel sepeda sesekali terdengar, sementara beberapa pengendara dan pejalan kaki melambaikan tangan kepada rombongan yang melintas. Bagi sebagian warga, pemandangan puluhan pesepeda memenuhi jalanan kota menjadi pengingat bahwa jalan raya sejatinya adalah ruang bersama, bukan hanya milik kendaraan bermotor.
Meski dikemas sederhana, semangat yang dibawa nyoRIDE cukup besar. Para peserta bersepeda keliling kota sambil mengampanyekan penggunaan sepeda sebagai alat mobilitas yang ramah lingkungan. Kehadiran rombongan pesepeda di jalanan menjadi pengingat bahwa sepeda masih memiliki tempat di ruang publik dan layak mendapatkan perhatian lebih dalam pembangunan kota.
Keseruan bertambah ketika peserta mendapatkan stiker edisi khusus World Bicycle Day yang dibagikan secara gratis. Tidak hanya peserta, warga yang ditemui sepanjang perjalanan juga tampak senang menerima stiker-stiker imut bertema Hari Sepeda Dunia. Banyak yang tersenyum, melambaikan tangan, bahkan ikut bertanya tentang kegiatan yang sedang berlangsung.
Selama lebih dari satu jam perjalanan, para peserta menempuh jarak kurang lebih 9 kilometer mengelilingi Kota Magelang. Berdasarkan perhitungan sederhana, setiap peserta berhasil menghindari emisi karbon sekitar 2,08 kilogram CO₂ yang berpotensi dihasilkan apabila perjalanan dilakukan menggunakan kendaraan bermotor pribadi.
Jika dihitung secara kolektif, lebih dari 50 peserta yang mengikuti nyoRIDE berhasil menghindarkan lebih dari 100 kilogram emisi CO₂ dalam satu kegiatan. Angka tersebut memang tidak akan langsung menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama-sama.
Rute yang ditempuh dimulai dari jalur sepeda Jalan Pemuda, kemudian melintasi Jalan Singosari, Jalan Beringin, Jalan Ikhlas, Jalan Suprapto, Jalan Telasih, Jalan Tidar, Jalan Tentara Pelajar, Jalan Brigjend Katamso, hingga Jalan Cempaka. Di penghujung kegiatan, peserta berhenti sejenak di depan Pendopo Pengabdian untuk berfoto bersama sebelum membubarkan diri.
Namun di balik kemeriahan perayaan Hari Sepeda Dunia, masih terdapat sejumlah catatan penting yang tidak boleh diabaikan.
Selama perjalanan, peserta masih menemukan pengguna kendaraan bermotor yang melawan arus dan menggunakan jalur sepeda secara tidak semestinya. Kondisi tersebut tentu membahayakan keselamatan pesepeda dan menunjukkan bahwa budaya berbagi ruang jalan masih perlu diperbaiki.
Kurangnya empati terhadap pesepeda juga masih menjadi tantangan. Tidak sedikit pesepeda yang kesulitan menyeberang jalan meskipun telah memberikan isyarat kepada pengguna kendaraan lain. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa keselamatan pesepeda belum sepenuhnya menjadi perhatian bersama.
Selain itu, infrastruktur pendukung sepeda di Kota Magelang juga masih membutuhkan banyak pembenahan. Jalur sepeda yang aman, terhubung, nyaman, dan terlindungi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika Magelang ingin benar-benar menjadi kota yang ramah pesepeda.
Di sisi lain, peringatan Hari Sepeda Dunia tahun ini juga menunjukkan bahwa perhatian terhadap isu bersepeda mulai mendapatkan ruang dalam komunikasi publik Pemerintah Kota Magelang. Melalui kanal media sosial resminya, Pemerintah Kota Magelang telah mengunggah ucapan Hari Sepeda Dunia sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan bersepeda dan transportasi ramah lingkungan. Langkah tersebut tentu patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat.
Namun demikian, para pesepeda berharap semangat Hari Sepeda Dunia tidak berhenti pada unggahan media sosial semata. Momentum ini akan terasa lebih kuat apabila seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turut bergerak bersama menggaungkan semangat bersepeda melalui kanal komunikasi yang mereka kelola. Kampanye yang dilakukan secara serentak dapat menjadi sarana edukasi yang efektif untuk memperkenalkan manfaat bersepeda, mengajak masyarakat beralih ke moda transportasi ramah lingkungan, sekaligus memperkuat identitas Magelang sebagai kota yang mendukung mobilitas berkelanjutan.
Pemerintah Kota Magelang sebenarnya juga telah memiliki langkah yang cukup baik melalui Surat Edaran Wali Kota yang mengimbau ASN untuk bersepeda ke kantor pada Jumat minggu ketiga setiap bulan. Kebijakan tersebut menunjukkan adanya komitmen untuk mendorong budaya bersepeda di lingkungan pemerintahan. Tantangannya kini adalah memastikan kebijakan tersebut berjalan secara konsisten melalui monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan.
Bayangkan jika setiap ASN yang bersepeda ke kantor turut mencatat dan melaporkan jumlah emisi karbon yang berhasil dihindarkan (carbon saved) dari perjalanan mereka. Data sederhana tersebut dapat diolah menjadi informasi menarik dan dipublikasikan secara berkala kepada masyarakat. Selain menjadi bentuk akuntabilitas pelaksanaan kebijakan, langkah ini juga dapat menjadi inspirasi bahwa perjalanan sehari-hari menggunakan sepeda mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengurangan emisi dan kualitas lingkungan kota.
Harapan tersebut sebenarnya sejalan dengan semangat Gerakan Magelang Bersepeda untuk Kerja dan Sekolah yang pernah dicanangkan Kota Magelang pada peringatan Hari Sepeda Dunia tahun 2024. Semangat itu patut terus dijaga dan dikembangkan agar tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan tumbuh menjadi budaya mobilitas sehari-hari yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Harapan yang dibawa para peserta nyoRIDE sebenarnya sederhana: mewujudkan Magelang sebagai kota ramah sepeda dalam arti yang sesungguhnya. Kota yang aman bagi anak-anak yang bersepeda ke sekolah, nyaman bagi pekerja yang bersepeda ke kantor, dan menghargai setiap pengguna jalan tanpa memandang moda transportasi yang digunakan.
Menariknya, Kota Magelang sebenarnya pernah mendapatkan pengakuan sebagai Kota Ramah Sepeda. Pada tahun 2021, B2W Indonesia menganugerahkan Predikat Emas untuk kategori Kota Sedang kepada Kota Magelang dalam penilaian Kota Ramah Sepeda. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa Magelang memiliki potensi besar untuk menjadi kota yang nyaman bagi pesepeda. Namun, berbagai catatan yang masih ditemui di lapangan menunjukkan bahwa predikat tersebut perlu terus dijaga dan diwujudkan dalam pengalaman nyata para pesepeda sehari-hari.
Sebagai informasi, Hari Sepeda Dunia diperingati setiap tanggal 3 Juni setelah ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi A/RES/72/272 pada tahun 2018. Melalui peringatan ini, PBB mengajak negara-negara di dunia untuk mendorong penggunaan sepeda sebagai alat transportasi yang sehat, terjangkau, inklusif, dan ramah lingkungan, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan dan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
Pertanyaan sederhananya, jika jarak rumah ke sekolah, kampus, kantor, pasar, atau tempat nongkrong hanya beberapa kilometer, bisakah kita mulai mengganti sebagian perjalanan itu dengan sepeda? Tidak setiap hari, mungkin cukup seminggu sekali. Karena budaya bersepeda tidak lahir dari pembangunan infrastruktur semata, tetapi juga dari keberanian masyarakat untuk mulai mengayuh.
Pada akhirnya, membangun kota ramah sepeda tidak hanya membutuhkan komunitas yang aktif mengayuh sepeda di jalanan, tetapi juga dukungan kebijakan, keteladanan pemerintah, dan partisipasi masyarakat yang berjalan beriringan.
Hari Sepeda Dunia bukan hanya tentang merayakan sepeda, tetapi tentang memperjuangkan hak setiap orang untuk merasa aman ketika memilih bersepeda.

Komentar
Posting Komentar