Jawabannya mungkin membuat kita semua merenung.
Hingga hari keempat pelaksanaan #ASNWaniNgepit Challenge, hanya terpantau sembilan ASN yang bersepeda ke tempat kerja. Tujuh berasal dari Pemerintah Kota Magelang dan dua lainnya dari Kementerian Keuangan. Angka ini terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah ASN Pemerintah Kota Magelang yang mencapai lebih dari 3.000 orang.
Padahal, dukungan kebijakan sebenarnya sudah tersedia. Ada Edaran Wali Kota Magelang tentang Transformasi Budaya Kerja ASN, Surat Edaran Himbauan Bersepeda bagi ASN, hingga Deklarasi Magelang Go Green. Di tengah kondisi geopolitik global yang memengaruhi harga minyak dunia dan semakin memburuknya kualitas lingkungan akibat emisi kendaraan bermotor, bersepeda seharusnya bukan lagi sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama.
Pertanyaannya, mengapa kebijakan yang baik belum mampu menjelma menjadi budaya?
Mungkin karena budaya tidak lahir dari surat edaran semata.
Budaya lahir dari keteladanan.
Minggu lalu, komunitas MagelangBIKE meluncurkan #ASNWaniNgepit Challenge sebagai sebuah eksperimen sosial sederhana. Tidak ada hadiah besar yang ditawarkan. Tidak ada doorprize sepeda, uang tunai, atau paket wisata. Bahkan hadiah yang disiapkan hanyalah sebuah tumbler bagi peserta yang beruntung. Selebihnya, peserta hanya diminta mencatat aktivitas bersepedanya melalui leaderboard yang menampilkan jarak tempuh dan jumlah emisi karbon yang berhasil dihindarkan (carbon saved).
Sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana.
Namun memang bukan hadiah yang ingin dicari. Tantangan ini dibuat untuk membangkitkan kesadaran bahwa bekerja untuk iklim dapat dimulai dari perjalanan menuju kantor. Selaras dengan semangat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, tantangan ini mencoba menjawab pertanyaan mendasar: jika fasilitas dan kebijakan sudah ada, siapa yang bersedia memulai?
Hasilnya cukup mencolok.
Dari ribuan ASN, hanya segelintir yang mengayuh pedal.
Ironisnya, mereka yang bersepeda justru bukan mereka yang terdorong oleh surat edaran. Dari hasil wawancara, tidak satu pun peserta menyatakan mulai bersepeda karena adanya himbauan pemerintah. Mereka telah bersepeda jauh sebelum kebijakan itu diterbitkan. Motivasi mereka sederhana: menjaga kesehatan dan menjaga kualitas udara kota.
Artinya, keteladanan ternyata berjalan lebih dulu dibanding kebijakan.
Fakta lain yang menarik, rata-rata peserta menempuh jarak sekitar 15 kilometer pulang-pergi setiap hari. Bahkan salah satu ASN Kementerian Keuangan rela mengayuh lebih dari 50 kilometer pulang-pergi karena berkantor di luar kota. Ini menunjukkan bahwa alasan jarak sering kali bukan satu-satunya faktor penentu.
Ada pula kisah seorang guru SMP di Kota Magelang yang membagikan pengalamannya di media sosial. Ia mengaku mendapatkan apresiasi dari para siswanya karena datang ke sekolah dengan sepeda. Hal sederhana tersebut ternyata memberi dampak besar. Murid-murid melihat contoh nyata, bukan sekadar himbauan. Rekan-rekan sejawatnya pun mulai tertarik untuk ikut bersepeda.
Di sinilah letak nilai penting gerakan ini.
Anak-anak tidak hanya mendengar tentang gaya hidup ramah lingkungan. Mereka melihatnya langsung dari guru mereka.
Masyarakat tidak hanya membaca slogan Magelang Go Green. Mereka melihat ASN menghidupkan slogan tersebut di jalanan kota.
Lebih menarik lagi, para peserta tidak menggunakan sepeda mahal. Ada yang masih setia menggunakan sepeda Federal lawas dengan spesifikasi pabrik puluhan tahun lalu. Fakta ini mematahkan anggapan bahwa bersepeda adalah hobi mahal yang hanya bisa dilakukan mereka yang memiliki perlengkapan premium.
Yang dibutuhkan bukan sepeda mahal.
Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memulai.
Sebenarnya, #ASNWaniNgepit bukanlah aksi yang muncul begitu saja. Tantangan ini juga merupakan bentuk inisiatif dan aksi nyata MagelangBIKE setelah tidak adanya tindak lanjut atas surat yang pernah disampaikan kepada Wali Kota Magelang terkait monitoring dan evaluasi Surat Edaran Bersepeda bagi ASN.
Melalui surat tersebut, MagelangBIKE mengusulkan agar Pemerintah Kota Magelang, melalui Dinas Lingkungan Hidup, melakukan pemantauan terhadap implementasi program bersepeda dengan menghitung carbon saved yang dihasilkan ASN di masing-masing OPD. Dengan demikian, dampak program dapat diukur secara nyata, bukan hanya menjadi himbauan yang berhenti di atas kertas.
Sayangnya, usulan tersebut belum mendapatkan tindak lanjut.
Padahal, apa yang tidak diukur sulit untuk dievaluasi, dan apa yang tidak dievaluasi sulit untuk berkembang.
Karena itu, #ASNWaniNgepit dapat dipandang sebagai bentuk partisipasi masyarakat untuk mengisi ruang yang masih kosong tersebut. Jika pemerintah belum sempat menghitung dampaknya, komunitas mencoba memulainya secara mandiri. Jika belum ada sistem pemantauan, komunitas mencoba menunjukkan bahwa hal itu memungkinkan dilakukan dengan cara yang sederhana.
Pada akhirnya, tantangan ini akan berakhir. Leaderboard akan ditutup. Pemenang tumbler akan diumumkan. Namun sesungguhnya ukuran keberhasilan #ASNWaniNgepit bukanlah berapa orang yang memenangkan hadiah.
Ukuran keberhasilannya adalah apakah setelah tanggal 19 Juni nanti akan ada lebih banyak ASN yang memilih mengayuh sepeda ke kantor.
Tidak harus setiap hari.
Tidak harus puluhan kilometer.
Tidak harus dengan sepeda mahal.
Mulailah seminggu sekali. Jadikan udara yang lebih bersih sebagai motivasi. Jadikan kesehatan sebagai bonusnya. Dan jadikan keteladanan sebagai kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.
Sebab Magelang Go Green tidak akan terwujud hanya melalui deklarasi dan surat edaran. Ia akan terwujud ketika semakin banyak orang bersedia mengubah kebiasaan, satu kayuhan demi satu kayuhan.
Dan mungkin, perubahan besar itu memang harus dimulai dari keberanian sederhana untuk "wani ngepit".

Komentar
Posting Komentar