Minggu kemarin Kota Magelang terasa begitu hidup. Ribuan orang memadati kota untuk mengikuti event lari yang kabarnya diikuti hampir 8.000 peserta. Suasana meriah, ramai, dan tentu membawa energi positif bagi kota. Hotel penuh, UMKM bergerak, jalanan ramai oleh pelari dan penonton. Sebuah kebanggaan sebenarnya melihat Magelang mampu menggelar event sebesar itu.
Namun di balik kemeriahan tersebut, ada satu hal yang cukup mengusik.
Menurut cerita TemanBike yang saat itu berada di lokasi, trotoar dan jalur sepeda justru dipenuhi motor peserta yang parkir sembarangan. Bahkan lebih parah lagi, jalur sepeda dipakai lawan arus oleh pengendara motor. Padahal jalur itu dibuat untuk keamanan pengguna sepeda dan pejalan kaki.
Ini bukan sekadar soal parkir. Ini soal keselamatan dan kesadaran bersama.
TemanBike sempat mengajukan keluhan kepada petugas yang berjaga di lokasi. Tapi tahu jawabannya?
“Terus suruh parkir di mana? Di awan?”
Jawaban yang terdengar bercanda, tapi sebenarnya menyisakan ironi. Karena ketika petugas yang seharusnya mengatur justru menjawab dengan nada seperti itu, masyarakat akhirnya melihat ketidakteraturan sebagai sesuatu yang wajar.
Padahal informasi mengenai kantong parkir sebenarnya sudah dibagikan melalui media sosial. Artinya, sistem awalnya sudah ada. Sayangnya di lapangan tidak semua petugas mengarahkan, bahkan cenderung membiarkan. Ditambah sebagian warga yang memilih praktis tanpa peduli dampaknya, akhirnya yang tercipta adalah kekacauan kecil yang merugikan banyak pengguna jalan lain.
Yang paling dirugikan tentu pejalan kaki dan pesepeda yang memang berhak menggunakan trotoar serta jalur sepeda.
Sebenarnya event sebesar ini bisa menjadi momentum yang sangat baik bagi Pemerintah Kota Magelang. Bukan hanya soal sukses penyelenggaraan acara, tetapi juga kesempatan untuk melatih budaya tertib masyarakat. Edukasi itu tidak cukup lewat unggahan media sosial saja. Harus ada kesamaan persepsi antara petugas, panitia, dan masyarakat di lapangan.
Karena percuma ada aturan jika implementasinya dibiarkan longgar.
Selain itu, event seperti ini juga sangat potensial menjadi kampanye lingkungan hidup. Pemerintah Kota Magelang selama ini mendorong pengurangan sampah plastik, namun pada event kemarin belum terlihat ajakan masif kepada peserta untuk membawa tumbler sendiri. Tempat khusus pembuangan botol plastik pun nyaris tidak terlihat.
Padahal Dinas Lingkungan Hidup bisa ikut mengambil peran lebih besar. Misalnya dengan menggerakkan relawan lingkungan, menyediakan kantong khusus sampah botol plastik, hingga membuat titik isi ulang air minum. Langkah kecil seperti itu akan memberi pesan kuat bahwa olahraga dan kepedulian lingkungan bisa berjalan bersama.
Magelang adalah kota yang nyaman, sejuk, dan punya wajah kota yang semakin baik. Akan sangat disayangkan jika ruang publik yang sudah dibangun justru kehilangan fungsi karena ketidaktertiban yang dianggap biasa.
Andai semua pihak lebih aware — panitia, petugas, peserta, maupun masyarakat — bukan tidak mungkin cita-cita “Magelang ASRI” bisa terwujud lebih cepat.
Karena kota yang maju bukan hanya tentang ramainya acara, tetapi juga tentang bagaimana warganya belajar tertib bersama.

Komentar
Posting Komentar